REGULASI
REFERENSI
DOKUMEN
LAYANAN PUBLIK
Galeri
PROFILE
BERANDA

berita & artikel

03 September 2018


Upacara Konsulat Jepang Di TPU Sukun Nasrani Sebagai Penghormatan Arwah Nenek Moyang




image

Upacara menghormati arwah  tentara Jepang yang disemayamkan di TPU Sukun Nasrani  kembali digelar. Kegiatan yang dimotori oleh Konsulat Jepang di Jawa Timur merupakan agenda tahunan yang dimulai sejak tahun 1984.

Semula, TPU Sukun Nasrani adalah tempat pemakaman yang dikhususkan bagi orang-orang Eropa. Dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda atas ide Walikota Malang yang pertama H I Bussemaker (1919-1929). Berkat rancangan Herman Thomas Karsten, arsitek Belanda yang bertangan dingin. Pada tahun 1918 tempat yang dulunya adalah wilayah yang jarang penduduknya mampu disulap sebagai tempat pemakaman dengan gedung kokoh yang masih berdiri hingga saat ini. Bong Londo, begitulah sebutan bagi tempat pemakaman yang terletak di Jalan Sudanco Supriadi no 38 Kota Malang.

Saat terjadi perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942 dengan salah satu isi perjanjian adalah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Maka, secara de facto dan de yure kekuasaan Belanda berpindah kepada Jepang. Begitupun, Bong Londo harus berpindah tangan ke tentara Jepang, sehingga yang pemakaman yang dibangun pada masa Bouwplan III,  harus beralih fungsi menjadi tempat pemakaman bagi  tentara Jepang.

Seperti kita tahu, tentara Jepang adalah penjajah yang dengan bengis merampas hak-hak kemerdekaan rakyat Indonesia. Jepang masuk ke Indonesia dan berhasil mengambil hati rakyat dengan menjanjikan kemerdekaan dan membuat kebijakan-kebijakan yang mengundang simpati rakyat Indonesia antara lain dibentuknya BPUPKI, PPKI serta membentuk pemerintahan militer dengan anggotanya orang pribumi.

Jepang dengan gerakan propaganda yang dikenal dengan gerakan 3A yaitu Jepang cahaya Asia, Jepang pemimpin Asia dan Jepang pelindung Asia mampu menaklukkan hati rakyat Indonesia untuk menerima kedatangan Jepang. 

Siapa sangka,  Jepang yang mengaku saudara tua dan sama-sama berasal dari satu benua ternyata setali tiga uang dengan Belanda.  Mencabik kemerdekaan Bangsa Indonesia dan menambah penderitaan bangsa dengan romusha. 

Jepang berkuasa di Indonesia selama 3,5 tahun. Meskipun begitu, para duta atau konsulat tetap menganggap mereka yang disemayamkam di TPU Sukun Nasrani ini adalah pahlawan dan nenek moyang yang wajib untuk dihargai, dijunjung dan tidak dilupakan. Begitu tingginya, Bangsa Jepang menghargai dan menghormati nenek moyang. Tidak mengherankan jika upacara yang dihadiri puluhan orang berjalan khidmat dan begitu khusyuk.

Mengenakan baju hitam, begitu sahaja dan santun para duta dan konsulat berkumpul untuk mendokan arwah nenek moyang. Sebelum berdoa dilakukan, acara dibuka dengan sambutan yang dipimpin oleh Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Tani Masaki. Dalam Bahasa Jepang, pria berpawakan tinggi kurus ini menceritakan tentang sejarah nenek moyang.  

Setelah sambutan dilakukan, prosesi upacara sederhana dilaksanakan dengan berdoa di depan monumen yang merupakan simbol bahwa telah disemayamkan sekitar 50 orang tentara Jepang. 

Monumen berpahat huruf kanji, dengan gagah berdiri. Monumen Jepang begitulah sebutan untuk tugu yang dibangun pada tahun 1982 ini. Di hadapan monumen dengan sopan, hadirin maju satu per satu untuk mendoakan arwah nenek moyang. Sebelum beranjak dari tempat duduk,  tidak lupa membungkukkan badan sebagai simbol penghormatan. Satu adab yang patut dicontoh. 

Kegiatan berlangsung sekitar 30 menit, walaupun durasi tidak begitu lama. Namun,  suasana hening, sakral dan penuh khidmat begitu terasa. Acara ditutup dengan foto bersama, tanpa adanya selfi atau weefi seperti kebiasaan kita. 

Ditemui setelah kegiatan usai, Mr Tani Masaki sang penanggung jawab acara menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah agenda rutin. 

"Kegiatan ini sudah kita laksanakan hampir 30 tahun yang kami laksanakan secara terus-menerus. Hal ini bertujuan agar kita, para duta dan konsul yang ada di Indonesia tahu, mengenang, menghormati dan tidak melupakan nenek moyang yang telah meninggal di Indonesia" ungkap pria 60 tahun ini dengan logat Bahasa Indonesia terbata-bata. Sabtu (1/9).

Masih berada di tempat yang sama.  Kepala UPT TPU, Taqruni Akbar yang telah kedua kali menyaksikan acara ini mengapresiasi positif acara yang digelar tiap tahun. 

"Sudah dua kali ini, saya menyaksikan prosesi upacara penghormatan kepada tentara Jepang yang disemayamkan di TPU Sukun Nasrani. Walaupun Jepang pernah menjajah bangsa kita, namun tetap kita harus meghormati mereka" ungkap Pak Roni. 

Pak Roni juga berharap, kegiatan serupa seperti misa arwah yang digelar di TPU yang memiliki luas 120.000 m2 dapat menjadikan momentum sebagai pengenalan TPU Sukun Nasrani agar lebih dikenal khalayak ramai. 

"Kegiatan ini sangat baik, kegiatan serupa seperti misa arwah yang biasanya dilaksanakan awal Nopember, merupakan momentum mengenalkan diri kepada masyarakat umum dan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke TPU, apalagi TPU Sukun Nasrai merupakan cagar budaya yang perlu dilestarikan dan mengandung sejarah yang mempunyai banyak cerita" pungkas pria yang juga menjabat sebagai Plt Rusunawa ini.







Unit Kerja
Unit Kerja Kegiatan Detail
Bidang Penerangan Penerangan Jalan Pelayanan di bidang penerangan jalan umum dan jalan lingkungan Detail
Pengumuman
Judul Keterangan Detail
Upacara 17 Agustus 2018 Detail
Sosial Media

Live Chat

Email :

Nama :


Send