REGULASI
REFERENSI
DOKUMEN
LAYANAN PUBLIK
Galeri
PROFILE
BERANDA

berita & artikel

15 November 2018


"Kopi Cap Tulang, Seram Namun Mengagumkan."




image

Kopi Tulang, bubuk hasil olahan kopi robusta yang ditanam di sela-sela lahan TPU Sukun Nasrani  kembali hadir menyapa penggemarnya di stand kopi dalam acara Pembinaan Pengurangan Sampah Pada Pengembangan Unit Bank Sampah Di Tiap RW yang digelar Bank Sampah Malang (BSM) di halaman depan Unit Pelaksana Teknis Tempat Pemakaman Umum (UPT TPU) Jalan Sudanco Supriadi no 38 Kota Malang. Kamis (15/11).

Bukan tanpa alasan UPT TPU hadir dalam acara yang diprakarsai oleh Dinas Lingkungan Hidup ini. Walaupun bukan tuan rumah, namun unit kerja yang berkaitan dengan pemakaman ini ingin mengenalkan diri sebagai unit kerja yang turut andil dalam pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan lahan pemakaman sebagai Kawasn Ruang Terbuka Hijau melalui penanaman kopi.

Animo masyarakat dalam hal ini nasabah BSM yang sebagian besar adalah ibu-ibu begitu tinggi untuk sekedar ingin tahu,  mencicipi bahkan menjadikan Kopi Cap Tulang sebagai buah tangan untuk keluarga, teman maupun rekan kerja. Di tenda yang terletak di sebelah utara Kantor UPT TPU. Stand kopi begitu ramai didatangi para pengunjung, berdesak-desakan bahwa rela mengantri untuk menikmati seduhan kopi yang tidak biasa ini.

"Hi ngeri, kopi cap tulang.  Jangan-jangan kopinya bercampur dengan tulang mayat ya, khan ditanam di pemakaman. Tapi saya tak coba dulu sensasinya" ucap salah seorang ibu yang heran ada kopi ditanam di lahan pemakaman.

Kopi Cap Tulang adalah produk yang dihasilkan UPT Tempat Pemakaman Umum hasil dari olahan kopi robusta yang diracik dengan sistem penggorengan medium roast yang artinya biji kopi disangrai tidak terlalu matang untuk mengeluarkan sensasi kopi yang pahit, asam, gurih dan menyajikan aroma kacang. Tidak mengejutkan jika antusias pecinta kopi begitu tinggi saat merasakan sensasi yang ditawarkan.

Seperti yang kita tahu, kepala UPT tempat Pemakaman Umum,  Taqruni Akbar diawal kepemimpinannya menggebrak dan membuat terobosan dengan memanfaatkan potensi di lahan TPU. Sekitar awal Bulan Maret 2017. Pria yang disapa dengan panggilan Pak Roni, melihat bahwa sumber daya alam di TPU yang dikelola Pemerintah Kota Malang begitu tinggi. Beliau menyayangkan jika dibiarkan begitu saja. Ide brilyan untuk memanfaatkan lahan dengan penanaman kopi pun diapresiasi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan kala itu, Bapak Erik Setyo Santoso

Gayung bersambut, pihak penjual jasa yang diketuai Bapak Pupuk melakukan swadaya untuk pengadaan kopi yang saat itu hanya berjumlah 700 buah. Berjalannya waktu kopi robusta jenis stek tumbuh subur dan berkembang di lahan TPU seluas 120.000 m2. Tentu saja penanaman kopi tidak ditanam diatas pusara atau berdekatan batu nisan namun ditanam di sela- sela lahan makam yang kosong.

Penanaman kopi merupakan investasi jangka panjang. Selain memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai resapan air, pencipta iklim mikro.  Hadirnya kopi di tengah pemakaman dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Kepala UPT TPU, bapak Taqruni Akbar mengapresiasi respon masyarakat yang begitu tinggi.
"Melihat animo dan tingginya antusias masyarakat terhadap Kopi Cap Tulang. Rencana kedepan akan kita perluas area untuk penanaman. Kita akan menancapkan bibit kopi di TPU yang belum tersentuh, yakni TPU Sukorejo,  TPU Sukun gang VII, TPU Ngujil dan TPU Mergosono" ungkap pria yang dinobatkan sebagai kandidat PNS Terinspirasi Versi Kementrian PAN RB saat menjamu tamu di stand kopi yang didominasi warna biru putih.

Mengusung tema UPT TPU menuju Grave Go Green Plus. Bapak Taqruni Akbar ingin mewujudkan bahwa lahan TPU mampu untuk menyumbang kawasan RTH sebesar 20% sebagai kawasan publik sesuai dengan ketetapan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4  Tahun 2011 Tentang Tata Ruang dan Tata Wilayah.

"Sebenarnya pemakaman adalah Kawasan RTH, dimana terdapat vegetasi alami yang tumbuh di dalamnya. Seharusnya pemakaman harus menyumbang 20% dari luas kawasan. Namun, seiring berkembangnya jaman kawasan RTH di pemakaman mulai terkikis. Oleh karena itu, tanaman kopi ini dapat menambah presentase kuantitas RTH" jelas Bapak yang pernah menjabat sebagai Kepala  Desa di usia 28 tahun.

Kopi Tulang dengan bungkus warna coklat kedap udara memiliki idola baru. Tak ayal, berbagai kalangan masyarakat dapat menikmati sensasi kopi yang diolah secara home industri.

Banyak pejabat teras turut menyereput kopi. Mulai dari Ketua Tim Penggerak PKK wilayah Kecamatan Kedungkandang, Komite sekolah dan penggagas lingkungan lainnya. Tak ketinggalan Kepala Bidang II, Bina Kemitraan dan Pengendalian, Bapak Rahmat Hidayat, ST M, Ling turut menikmati seduhan kopi.
"Rasanya mantab patut diacungi jempol. UPT TPU bisa mendirikan kafe dan nanti tamu-tamu BSM dapat turut menikmatinya sekaligus ajang promosi untuk mengenalkan TPU sebagai kawasan Grave Go Green" ungkap Pak Rahmat sang penggagas lingkungan saat menyambangi tenda kopi .

Tingginya antusias dan animo masyarakat akan hadirnya Kopi Cap Tulang sebagai produk UPT TPU merupakan angin segar agar UPT TPU yang berada dibawah naungan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman tidak hanya sebagai tempat penguburan jenazah saja. Melainkan sebagai kawasan yang berguna bagi masyarakat dalam penyelamatan linkungan dalam Grave Go Green Plus Melalui Difersivikasi TPU Di Kota Malang dengan produknya Kopi Cap Tulang. Semoga Kopi Cap Tulang dapat terus berkembang, berkibar dan membawa keberkahan bagi kita semua.

Malang, 15 Nopember 2018
Penulis : Hariani







Unit Kerja
Unit Kerja Kegiatan Detail
Bidang Penerangan Penerangan Jalan Pelayanan di bidang penerangan jalan umum dan jalan lingkungan Detail
Pengumuman
Judul Keterangan Detail
Upacara 17 Agustus 2018 Detail
Sosial Media

Live Chat

Email :

Nama :


Send